Dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW mari meneladani kehidupan beliau
Source: http://www.swaramuslim.com
Hari-hari sebelum tanggal 12 Rabiul Awal dan sesudahnya umat Islam di
berbagai tempat, terutama di Indonesia, sudah mengadakan peringatan
kelahiran Nabi Muhammad SAW, atau biasa disebut Maulid Nabi. Peringatan
itu lazim diselenggarakan dengan menampilkan dai-dai dan ulama kondang.
Mereka satu per satu menjelaskan kepada hadirin tentang segala hal yang
terkait dengan Rasulullah SAW. Misalnya tentang akhlak, perilaku, dan
perjuangan, dan sejarah hidup beliau.
Meskipun tergolong bid'ah, namun peringatan Maulid Nabi tergolong
bid'ah hasanah. Dalam arti, peringatan Maulid Nabi belum ada ketika
Rasulullah masih hidup. Peringatan itu baru diselenggarakan ratusan
tahun setelah beliau wafat. Ada beberapa versi mengenai awal mula
diselenggarakan Peringatan Maulid Nabi. Namun, yang paling masyhur
peringatan Maulid Nabi digagas pertama kali oleh Sultan Salahuddin
Al-Ayyubi (1137-1193).
Alkisah, umat Islam, terutama tentara Islam sudah mulai putus asa
menghadapi tentara Nasrani dalam berbagai peperangan (Perang Salib).
Lalu Sultan Salahuddin memerintahkan para ulama agar memberi semangat
kepada umat Islam. Caranya, dengan pidato-pidato di depan masyarakat
banyak yang menjelaskan tentang perjuangan Nabi Muhammad SAW pada
hari-hari menjelang kelahiran beliau. Hasilnya, semangat juang umat
Islam pun bangkit. Dalam berbagai medan perang, mereka pun meraih
kemenangan.
Berangkat dari latar belakang seperti itulah, para ulama kemudian
menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai tradisi. Dan, kita tentu
sangat baik bila mengikuti tradisi itu. Dalam peringatan-peringatan
Maulid Nabi yang kita selenggarakan sekarang ini, kita harapkan
semangatnya tidak bergeser dari zaman Sultan Salahuddin Al-Ayyubi.
Yakni: mengobarkan semangat umat Islam. Semangat yang dimaksud tentu
bukan untuk berperang melawan musuh secara fisik. Sebab musuh secara
fisik mungkin sudah tidak diperlukan.
Tapi musuh-musuh dalam bentuk lain kini semakin merajalela dan siap
menghadang. Musuh-musuh kita itu adalah kebodohan, kemiskinan,
keterbelakangan, sikap emosi, dan berbagai perilaku yang menyimpang
dari ajaran Nabi Muhammad SAW. Kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan,
dan berabagai perilaku yang menyimpang dari ajaran Islam itu lebih
banyak lahir justru karena kita kurang meneladani Rasulullah SAW.
Kecintaan kita kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW memang belum
luntur atau bahkan mungkin semakin bertambah. Sebagai misal, kita marah
ketika Nabi Muhammad SAW dilecehkan dan dihinakan. Sikap demikin tentu
terpuji dan merupakan bentuk dari cinta kita kepada Rasulullah SAW.
Tapi, hanya marah ketika Nabi Muhammad SAW dihinakan tentulah belum
cukup. Kecintaan kepada Rasulullah SAW harus pula disertai dengan
meneladai perilaku beliau dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah agama
sudah mengajarkan bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang
baik? Jujur harus kita akui bahwa perilaku sehari hari kita masih jauh
dari teladan beliau.
Sebagai contoh, kita masih sering emosional dan tidak sabar, kita masih
sering menyakiti anggota keluarga suami/istri dan anak-anak dan
tetangga serta teman. Kita masih sering mementingkan diri sendiri dan
tidak toleran kepada orang lain. Banyak dari kita belum peduli kepada
yatim-piatu, fakir-miskin (dhuafa), dan orang-orang yang membutuhkan
pertolongan. Banyak dari kita juga masih mengambil yang bukan hak:
Korupsi, mencari nafkah tidak halal, dan bahkan memperkaya diri
sendiri. Banyak dari kita masih belum menjadikan kehadiran diri sebagai
rahmat (manfaat) bagi orang lain. Intinya, kita masih belum menjadikan
Rasulullah sebagai teladan bagi kehidupan sehari-hari.
Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah harus kita wujudkan dalam
meneladani beliau. Ya dalam berperilaku, dalam berekonomi, berpolitik,
bersosial, berbudaya, dan seterusnya. Kita yakin bangsa dan negara akan
bertambah baik bila kita semua pemimpin dan rakyat mengikuti teladan
Rasulullah SAW. (RioL )
Visitors :9633 Org
Hits : 37665 hits
Month : 535 Users



